Minggu, 19 Mei 2013

PESAN EMAK



Uang yang bertaburan di meja para hakim itu membuat aku semakin yakin bahwa aku juga bisa seperti mereka. Memenangkan sebuah kasus yang salah akan membuat ratusan juta mengalir ke rekeningku. Sungguh sangat menggiurkan dan membuat aku semakin cepat kaya raya tanpa harus bersusah payah bekerja. Akan aku tinggalkan mereka yang tak mau bekerja sama dengan ku. Bagiku saat ini, uang adalah segala-galanya. Aku tak punya pilihan lain, disaat himpitan ekonomi melilit keluargaku dan mahalnya biaya pendidikan untuk ke tiga anakku. serta istri yang selalu minta cerai jika aku tak punya uang lebih.
Aku teringat pesan emak dikampung. “jangan sampai kamu jadi penegak hokum yang salah nak. Emak tidak ridho jika hidupmu, kau serahkan pada uang. Uang bukan segala-galanya di dunia ini. Jadilah penegak hukum yang adil dan jujur. Ingat pesan emakmu yang sudah tua ini nak”. pesan emak mulai merasuki pikiranku.

Apakah aku salah jika aku juga ingin kaya seperti mereka. Punya banyak uang dan bisa membeli apapun di dunia ini. Haruskah aku mendengar pesan emak dikampung. pikiranku semakin tak karuan. Pekerjaan yang seharusnya siap hari ini akhirnya terbengkalai di atas meja kerjaku. Aku tak perduli bentakan bos atau para penasehat di kantor kejaksaan aku bekerja saat ini. Aku telah membulatkan tekad bahwa itu jalan yang terbaik. Toh selama ini tuhan tak adil bagiku.

Kata Raja, satu angkatan kuliahku dulu yang sekarang sudah menjadi salah satu Ketua DPR terkenal di medan. Hidup itu butuh uang jadi jangan sia-sia kan kesempatan yang datang. Hatiku semakin mantap untuk terjun langsung menjadi penegak hukum yang cepat kaya. Biarlah orang mau berkata apa tentangku. Toh yang terpenting keluargaku bisa makan dan tidur tenang.
****************************

langit senja mulai menyelimuti bumi yang sedari tadi tak mau bersahabat dengan makhluk hidup dibumi ini. Panas yang tak tertahankan ini sudah pasti akibat dari banyaknya polusi dan efek rumah kaca. Sudah hamper sejam aku menunggu bus di halte ini, tapi tak satupun yang lewat menuju ke grogol. Aku tak ingin ketinggalan acara favorit ku di televisi. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 7.
“triinnn…tiin,,tinn,,,”
sebuah mobil mewah berhenti didepanku. Ingin pamerkah pada diriku atau ingin mengolok-ngolok aku yang hanya naik bus kota ini. Kaca mobil sedan itupun terbuka.
“tabah,,kamu nungguin siapa? udah naik mobil aku aja” ujarnya lagi yang tak lain ia adalah raja teman kuliah ku dulu.
disepanjang perjalanan ia mulai memamerkan segala kekayaan yang ia dapat. Dari mobil, rumah, istri, dan juga saham-saham yang ia tanam diluar negri. Cukup membuat aku terpojok disisi mobil mewah itu.
“kalau kamu mau, mulai besok kita bisa kerjasama. Untung dibagi 70:30, 70% buat kamu dan 30% buat aku. Yah itung-itung kata terimakasih”.
“tapi aq ga punya modal sebanyak itu bang. Kamu tau sendiri aku Cuma karyawan kantoran” kataku memelas minta bantuan.
“hahahah,,,itu bisa diatur. Yang penting kamu mau jadi orang kaya” ujarnya lagi yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
***************************
Pertemuan hari ini berjalan dengan lancar. Berbagai pihak mulai mengerjakan pekerjaan yang telah diterima disaat rapat tadi. Sedangkan aku mendapat tugas mengawasi gerak-gerik KPK. Tugas ini tak begitu berat bagiku karena jika dibayangkan dengan bekerja dikantoran yang gajinya tak seberapa. Menurut raja, hari ini akan cair dana untuk pembangunan jalan di daerah binjai. Dananya sekitar 12,9 trilyun yang akan langsung dihandel oleh raja sendiri. Bisa dipastikan sekitar 2,9 trilyun akan diberikan kepada seluruh kepala desa di setiap tempat. Dan 10 trilyun lagi akan jatuh ke kantong para DPR termasuk aku sebagai dewan keamanannya. Cukup menggiurkan dan sangat tidak etis jika kita katakana kita tidak butuh uang saat ini.

“tabah,,,,” suara serak memanggil diriku dari balik pintu itu. Aku mencoba mencari sumber suara itu. Ternyata suara Angga teman satu kuliah ku dan raja di Universitas dulu. Aku tidak menyangka akan bertemu dirinya disaat ini. Tubunya yang ideal layaknya pemain tinju. Dan paras wajahnya yang sedikit tua menandakan ia sedang punya banyak masalah.
“apa kabar nya nie sekarang”  ujarku mencoba mencairkan suasana.
“kalau kabar sih buruk. Kamu sendiri mbah?  Kata-kata mbah yang ku dengar itu sama persis seperti panggilan emak untuk ku. Aku rindu emak bisikku dalam hati.
angga bercerita bahwa ia adalah anggota Tim KPK yang sekarang sedang gencar mencari para mafia berkepala kelinci seperti raja dan teman-temannya. Aku sangat terkejut saat dia mengatakan bahwa ia tahu siapa-siapa saja anggota mafia tersebut dan para pembantunya. Darahku semakin mengalir deras. Ketahuankah diriku ini sebagai pembantu mafia.
*****************************
sejak hari itu, aku berhenti dari komplotan mafia berkepala kelinci itu. Meskipun aku sempat beradu argument dengan sahabatku raja, tapi tekadku sudah bulat. Aku akan bekerja di kantor yang gajinya tak seberapa namun halal. Aku tak ingin emakku murka dan tak meridhoi aku sebagai anaknya lagi. Kabar tentang raja dan teman-temannya sudah tak pernah ku dengar lagi. Sudah tertangkapkah mereka atau sedang berpesta pora disuatu tempat. Aku tak mau memikirkannya lagi.

rintik-rintik hujan mulai membasahi wilayah sekitar grogol. Aku segera pergi menjemput anak bungsuku yang sekarang tinggal bersamaku. Semenjak aku menceritakan kepada istri dan anak-anakku bahwa aku pernah berkomplotan dengan mafia mereka langsung tidak terima. Putusan cerai telah aku terima sebulan yang lalu. Tak mengapa bagiku yang terpenting buah hatiku ini masih tetap mau menerima aku sebagai ayahnya. Ku lihat satu persatu wajah anak-anak sekolah itu semuanya tertawa dengan lepas. Tapi mengapa mereka mau mengorbankan rakyat dan tawa anak-anak ini demi uang yang tak seberapa itu. Pikirku dalam hati yang mulai menyesali perbuatanku dulu.
“ayah….” Suara merdu itu ku dengar begitu syahdu. Dengan cepat aku mendekatinya. Aku tak ingin ada penyesalan lagi di akhir hidupku nanti.
ku peluk dengan erat buah hatiku yang sangat lugu itu.
kulihat sekelompok polisi telah berdiri di depanku dengan menodongkan senjata yang aku rasa itu telah berisi peluru yang mematikan. Aku tak ingin lari lagi dengan pasrah aku serahkan kedua tanganku untuk di borgol.
“mari ikut kami, keterangan saudara sangat membantu proses penyelidikan mengenai uang suap dari saudara raja”. Kata salah satu polisi itu dan aku hanya mengangguk.
“bagaimana dengan mafia-mafia itu? Kataku pada pihak kepolisian.

“mereka sudah sebulan yang lalu kami tahan, dan kami membutuhkan penjelasan dan keterangan langsung dari saudara agar hukuman dapat segera diputuskan”.
 Dengan uraian air mata ku lihat buah hatiku menangis tak ingin berpisah. Seandainya dulu aku tak mengikuti hawa nafsuku untuk menjadi orang kaya. Tentu hari ini, esok dan seterusnya  bisa selalu menjemputnya di kala pulang sekolah.

“aku yang akan menjaga dan mendidiknya”  kata-kata itu bagaikan hujan dipadang pasir yang sangat ku harapkan. Aku semakin yakin bahwa kelak anakku akan menjadi orang yang hebat jika bersama nya. Sahabat yang selalu membela kebenaran.
maafkan aku emak……
yang sudah melupakan pesan terakhirmu……..





...........THE END...................



karya : ritha wati.....
cerpen ke-2 ku....semenjak kuliah