Jumat, 29 November 2013

DERITA HATI


Senyumnya yang menawan mulai merasuki pikiranku. Aku terlalu takut untuk mendekatinya atau bahkan mengajaknya berkenalan. Terkadang aku mulai merasa hatiku semakin perih, jika ada yang mendekati atau mengajaknya berbicara. Aku mencoba memandangnya sekali lagi. Tetap saja senyumnya tak bisa tergantikan oleh apapun. Matanya yang indah bak mata kucing angora telah membuat jantungku semakin berdegup kencang. Ingin rasanya aku berlari dan mendekapnya erat hingga waktu akan terhenti sendirinya. Sejenak hayalanku pudar tertelan kabut yang menutupi lautan cintaku.
 Sesosok wanita  berwajah anggun dan bertubuh ideal berdiri disampingnya sambil tertawa lepas. Mataku tak kuasa melihatnya dengan lesu aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Tempat dimana aku dapat melihat senyum sesosok pangeran hatiku.
sejak kejadian hari itu, aku semakin tak berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas skripsi yang sebentar lagi harus aku serahkan. Yang aku pikirkan hanya pangeran hatiku yang sekarang tak pernah ku jumpai. Bukan karena aku sibuk atau aku tak datang ketempat biasa dia bercanda tawa bersama yang lain. Tapi dia lah yang sekarang tak pernah datang ketempat itu.

kata mbak tia, kawan satu kontrakanku di kota pelalawan ini,itulah yang dinamakan cinta buta. Dan dia menakuti-nakutiku dengan berkata bahwa tak lama lagi akan ada surat undangan pernikahan darinya. Aku mengganggap perkataan mbak tia hanya candaan semata untuk menghiburku.

langit senja mulai menyelimuti bumi yang kian gersang ini. Aku mulai mempercepat langkah menuju halte kampus yang sebentar lagi akan tiba. Sungguh beruntung, bus itu berhenti di depanku. Aku segera naik dan mencari tempat yang ku anggap nyaman. Ku pilih tempat duduk yang kacanya terbuka. Dan Ku biarkan angin bernyanyi merdu menenangkan hati yang tak pernah tersirami oleh kenikmatan cinta.

Perjalanan pulang dari kampus ke kontrakan yang selama ini aku rasa begitu indah kini kembali suram tak bercahaya. Benar-benar membosankan pikirku dalam hati sambil melirik keluar kaca bus itu. Tiba-tiba bus yang aku tumpangi mengalami bocor ban dan membuat panik seluruh penumpang. Ingin rasanya aku beranjak pergi dari tempatku tapi  Mataku terkesima akan sesosok perempuan anggun yang tersenyum ramah pada laki-laki tua disampingnya.

 Dengan sabar prempuan itu memapah laki-laki tua tersebut. Meski terkadang urat di nadinya mulai keluar menandakan betapa letihnya ia.  Siapa perempuan ini. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana. Pikiranku semakin tak karuan. Tak mungkin itu pacarnya atau suaminya pikirku. karna tubuhnya sudah tak berdaya lagi. Ku pandang sekelilingnya, tak ada seorang pun yang mau menolong perempuan.
Rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi. Orang-orang pun berlarian mencari tempat untuk berteduh. Namun wanita itu tetap ditempatnya. Dengan harapan ada yang mau menolongnya. Bus yang dari tadi ku tunggu belum juga siap menambal ban yang bocor tadi.

Aku pun beranjak keluar bus dan mencari tempat untuk berteduh dari gempuran sang hujan yang kini tak pandang bulu lagi. Samar-samar terdengar suara perempuan meminta tolong. Semua orang saling memandang.  Dengan langkah seribu ku cari sumber suara tersebut. Dan asalnya adalah perempuan tadi.  Dengan isak tangis ia mencoba meminta tolong padaku. Laki-laki tua yang tadi dipapahnya kini tergeletak diantara derasnya hujan. Aku ingat kata mbak surya, jika melihat orang pingsan maka coba periksa nadinya. Jika lemah maka ia butuh perawatan intensif. Dengan cepat ku periksa nadi laki-laki tua itu. Dan perkiraanku benar, ia butuh perawatan intensif. Tapi mau aku bawa kemana laki-laki ini. Tapi jika dibiarkan nyawanya akan terancam. Aku tak perduli akan gejolak di hatiku. Ku percepat langkahku membawa laki-laki itu dengan memapahnya. Berharap ia masih bisa tertolong sampai di rumah sakit.

handpone ku bergetar menandakan ada pesan masuk. Ku lihat pesan itu dari perempuan yang dulu ku tolong, “sarah” ada apa gerangan ia mengirimi aku pesan selarut ini. Aku coba menghubunginya tapi tak diangkat. Hingga berkali-kali aku menelponnya tetap sama saja. Hatiku semakin tak karuan. Darahku berdesir kian cepat. Aku pun bergegas menuju rumah sakit. Dimana aku meninggalkan perempuan itu. Mataku berkaca-kaca ketika ku lihat tulisan di depan pintu kamar pasien itu “innalillahi wa innalillahi roji’un”.

 semua terasa begitu sedih ditinggalkan orang tercinta. Apalagi itu adalah sesosok ayah yang selama ini menjadi pembimbing dikala kita menempuh suatu jalan. Aku tak ingin mengganggu acara keluarga mereka. Mungkin kedatanganku saat ini tidaklah tepat. Malam yang gelap dan penuh guruh halilintar. Menjadi teman di sepanjang perjalananku.
Sejak hari itu, aku lebih memilih diam. Tak lagi terobsesi untuk pacaran dengan sang pangeran hati yang dulu menggairahkan jiwa. Atau siapapun itu.

 aku berusaha fokus ke tugas skripsi yang harus aku antar hari ini. Ku pelajari setiap kata demi kata agar tak salah. Kurasakan hatiku mulai gugup. Jauh lebih gugup daripada ketemu dengan sang pujaan hatiku. Aku pun pindah ke taman kampus berharap otakku dapat memahami setiap kata yang aku baca. Kulanjutkan bacaan yang sempat tertinggal tadi. Begitu asyiknya membaca sampai-sampai aku tidak menyadari dirinya telah duduk disampingku sambil memainkan ponsel. Buru-buru aku bereskan semua buku yang ada di tempat itu sembari berjalan menjauh darinya.
“tunggu,buku nya ketinggalan nie” suara serak itu memanggil.
astaga bagaimana bisa aku meninggalkan buku-buku tersebut disitu. Dengan wajah pucat aku berjalan menghapiri suara yang tadi memanggilku.
“terimakasih” ujarku gugup.
“ya, lain kali hati-hati” ujarnya sambil tersenyum.
ohh indahnya senyuman itu, hingga jantungku tarasa terhenti .
“mas, kamu disitu” panggil seseorang dari balik pintu itu. Wajah yang sangat ku kenal dan tak bisa ku lupakan. Dia adalah perempuan di halte itu.
“ehh, ada sarah,” senyum perempuan itu.
“iya, mbak dina…saya mahasiswa disini” tatapanku semakin tak karuan. Apa yang sebenarnya terjadi.
perempuan itu memegang tangan sang pujaan ku dengan mesra. Ingin rasanya aku mendorongnya agar menjauh dari lelaki yang ku cintai itu. 

“maaf y sarah, mbak lupa kasih kabar sama kamu. Apalagi sejak ayah meninggal” katanya menerangkan. Memangnya siapa dia,saudara bukan teman juga bukan. Ngapain mesti kasih kabar. Mbak dina melihat tatapanku yang kosong. Dan entah apa yang ia bicarakan dengan lelaki pujaan ku itu. Sungguh hatiku semakin panas.  

“kalian sudah saling kenal?” ujar perempuan itu yang langsung dijawab oleh lelaki itu dengan gelengan kepala.
“dia siapa nya mbak?” Tanya ku penuh curiga.
“dek, sarah.. kenalin ini suami mbak namanya bagas”
Setelah mendengar kata-katanya, kepalaku terasa pusing. Tubuh ku tak berdaya dan Mulutku terasa beku, menolak untuk mengeluarkan sepatah kata.







 ...... THE END......

Minggu, 19 Mei 2013

PESAN EMAK



Uang yang bertaburan di meja para hakim itu membuat aku semakin yakin bahwa aku juga bisa seperti mereka. Memenangkan sebuah kasus yang salah akan membuat ratusan juta mengalir ke rekeningku. Sungguh sangat menggiurkan dan membuat aku semakin cepat kaya raya tanpa harus bersusah payah bekerja. Akan aku tinggalkan mereka yang tak mau bekerja sama dengan ku. Bagiku saat ini, uang adalah segala-galanya. Aku tak punya pilihan lain, disaat himpitan ekonomi melilit keluargaku dan mahalnya biaya pendidikan untuk ke tiga anakku. serta istri yang selalu minta cerai jika aku tak punya uang lebih.
Aku teringat pesan emak dikampung. “jangan sampai kamu jadi penegak hokum yang salah nak. Emak tidak ridho jika hidupmu, kau serahkan pada uang. Uang bukan segala-galanya di dunia ini. Jadilah penegak hukum yang adil dan jujur. Ingat pesan emakmu yang sudah tua ini nak”. pesan emak mulai merasuki pikiranku.

Apakah aku salah jika aku juga ingin kaya seperti mereka. Punya banyak uang dan bisa membeli apapun di dunia ini. Haruskah aku mendengar pesan emak dikampung. pikiranku semakin tak karuan. Pekerjaan yang seharusnya siap hari ini akhirnya terbengkalai di atas meja kerjaku. Aku tak perduli bentakan bos atau para penasehat di kantor kejaksaan aku bekerja saat ini. Aku telah membulatkan tekad bahwa itu jalan yang terbaik. Toh selama ini tuhan tak adil bagiku.

Kata Raja, satu angkatan kuliahku dulu yang sekarang sudah menjadi salah satu Ketua DPR terkenal di medan. Hidup itu butuh uang jadi jangan sia-sia kan kesempatan yang datang. Hatiku semakin mantap untuk terjun langsung menjadi penegak hukum yang cepat kaya. Biarlah orang mau berkata apa tentangku. Toh yang terpenting keluargaku bisa makan dan tidur tenang.
****************************

langit senja mulai menyelimuti bumi yang sedari tadi tak mau bersahabat dengan makhluk hidup dibumi ini. Panas yang tak tertahankan ini sudah pasti akibat dari banyaknya polusi dan efek rumah kaca. Sudah hamper sejam aku menunggu bus di halte ini, tapi tak satupun yang lewat menuju ke grogol. Aku tak ingin ketinggalan acara favorit ku di televisi. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 7.
“triinnn…tiin,,tinn,,,”
sebuah mobil mewah berhenti didepanku. Ingin pamerkah pada diriku atau ingin mengolok-ngolok aku yang hanya naik bus kota ini. Kaca mobil sedan itupun terbuka.
“tabah,,kamu nungguin siapa? udah naik mobil aku aja” ujarnya lagi yang tak lain ia adalah raja teman kuliah ku dulu.
disepanjang perjalanan ia mulai memamerkan segala kekayaan yang ia dapat. Dari mobil, rumah, istri, dan juga saham-saham yang ia tanam diluar negri. Cukup membuat aku terpojok disisi mobil mewah itu.
“kalau kamu mau, mulai besok kita bisa kerjasama. Untung dibagi 70:30, 70% buat kamu dan 30% buat aku. Yah itung-itung kata terimakasih”.
“tapi aq ga punya modal sebanyak itu bang. Kamu tau sendiri aku Cuma karyawan kantoran” kataku memelas minta bantuan.
“hahahah,,,itu bisa diatur. Yang penting kamu mau jadi orang kaya” ujarnya lagi yang langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
***************************
Pertemuan hari ini berjalan dengan lancar. Berbagai pihak mulai mengerjakan pekerjaan yang telah diterima disaat rapat tadi. Sedangkan aku mendapat tugas mengawasi gerak-gerik KPK. Tugas ini tak begitu berat bagiku karena jika dibayangkan dengan bekerja dikantoran yang gajinya tak seberapa. Menurut raja, hari ini akan cair dana untuk pembangunan jalan di daerah binjai. Dananya sekitar 12,9 trilyun yang akan langsung dihandel oleh raja sendiri. Bisa dipastikan sekitar 2,9 trilyun akan diberikan kepada seluruh kepala desa di setiap tempat. Dan 10 trilyun lagi akan jatuh ke kantong para DPR termasuk aku sebagai dewan keamanannya. Cukup menggiurkan dan sangat tidak etis jika kita katakana kita tidak butuh uang saat ini.

“tabah,,,,” suara serak memanggil diriku dari balik pintu itu. Aku mencoba mencari sumber suara itu. Ternyata suara Angga teman satu kuliah ku dan raja di Universitas dulu. Aku tidak menyangka akan bertemu dirinya disaat ini. Tubunya yang ideal layaknya pemain tinju. Dan paras wajahnya yang sedikit tua menandakan ia sedang punya banyak masalah.
“apa kabar nya nie sekarang”  ujarku mencoba mencairkan suasana.
“kalau kabar sih buruk. Kamu sendiri mbah?  Kata-kata mbah yang ku dengar itu sama persis seperti panggilan emak untuk ku. Aku rindu emak bisikku dalam hati.
angga bercerita bahwa ia adalah anggota Tim KPK yang sekarang sedang gencar mencari para mafia berkepala kelinci seperti raja dan teman-temannya. Aku sangat terkejut saat dia mengatakan bahwa ia tahu siapa-siapa saja anggota mafia tersebut dan para pembantunya. Darahku semakin mengalir deras. Ketahuankah diriku ini sebagai pembantu mafia.
*****************************
sejak hari itu, aku berhenti dari komplotan mafia berkepala kelinci itu. Meskipun aku sempat beradu argument dengan sahabatku raja, tapi tekadku sudah bulat. Aku akan bekerja di kantor yang gajinya tak seberapa namun halal. Aku tak ingin emakku murka dan tak meridhoi aku sebagai anaknya lagi. Kabar tentang raja dan teman-temannya sudah tak pernah ku dengar lagi. Sudah tertangkapkah mereka atau sedang berpesta pora disuatu tempat. Aku tak mau memikirkannya lagi.

rintik-rintik hujan mulai membasahi wilayah sekitar grogol. Aku segera pergi menjemput anak bungsuku yang sekarang tinggal bersamaku. Semenjak aku menceritakan kepada istri dan anak-anakku bahwa aku pernah berkomplotan dengan mafia mereka langsung tidak terima. Putusan cerai telah aku terima sebulan yang lalu. Tak mengapa bagiku yang terpenting buah hatiku ini masih tetap mau menerima aku sebagai ayahnya. Ku lihat satu persatu wajah anak-anak sekolah itu semuanya tertawa dengan lepas. Tapi mengapa mereka mau mengorbankan rakyat dan tawa anak-anak ini demi uang yang tak seberapa itu. Pikirku dalam hati yang mulai menyesali perbuatanku dulu.
“ayah….” Suara merdu itu ku dengar begitu syahdu. Dengan cepat aku mendekatinya. Aku tak ingin ada penyesalan lagi di akhir hidupku nanti.
ku peluk dengan erat buah hatiku yang sangat lugu itu.
kulihat sekelompok polisi telah berdiri di depanku dengan menodongkan senjata yang aku rasa itu telah berisi peluru yang mematikan. Aku tak ingin lari lagi dengan pasrah aku serahkan kedua tanganku untuk di borgol.
“mari ikut kami, keterangan saudara sangat membantu proses penyelidikan mengenai uang suap dari saudara raja”. Kata salah satu polisi itu dan aku hanya mengangguk.
“bagaimana dengan mafia-mafia itu? Kataku pada pihak kepolisian.

“mereka sudah sebulan yang lalu kami tahan, dan kami membutuhkan penjelasan dan keterangan langsung dari saudara agar hukuman dapat segera diputuskan”.
 Dengan uraian air mata ku lihat buah hatiku menangis tak ingin berpisah. Seandainya dulu aku tak mengikuti hawa nafsuku untuk menjadi orang kaya. Tentu hari ini, esok dan seterusnya  bisa selalu menjemputnya di kala pulang sekolah.

“aku yang akan menjaga dan mendidiknya”  kata-kata itu bagaikan hujan dipadang pasir yang sangat ku harapkan. Aku semakin yakin bahwa kelak anakku akan menjadi orang yang hebat jika bersama nya. Sahabat yang selalu membela kebenaran.
maafkan aku emak……
yang sudah melupakan pesan terakhirmu……..





...........THE END...................



karya : ritha wati.....
cerpen ke-2 ku....semenjak kuliah